Posted in Curahan Hati Kecilku

Curahan Hati Kecilku #4 : Pertanda Apakah?

Disini. Aku masih sendiri. Hari-hariku sepi. Tak ada yang istimewa dalam hidupku kini. Aku rindu. Rindu saat semuanya terasa ringan, terasa baik-baik saja. Entah sampai kapan aku berada di “dunia yang suram ini”. Tak pernah kubayangkan sebelumnya, tak pernah kubayangkan perasaan-perasaanku saat ini. Ternyata begitu kuat, sampai-sampai menguasai diriku. Rasanya aku sudah tak sanggup lagi. Namun, kepada siapa aku hendak mengadu? Tak ada tangan untuk kuraih, tak ada bahu untuk kusandarkan. 

Aku rindu sosok Ibuku. Ia yang selalu membuatku merasa nyaman dan aman setiap kali aku berada di dekatnya. Ia yang selalu ada di sisiku dan membelaku ketika seluruh dunia membenciku. Senyuman manisnya yang selalu memenuhi hari-hariku berhasil membuat rinduku semakin merindu. Aku benar-benar ingin melihatnya dan memeluknya erat. Sedang apakah ia sekarang? Bagaimana kabarnya? Akankah ia rindu padaku, sama seperti rinduku padanya? 

Selain itu, aku juga merindukan sosok Malaikat Baik. Suaranya yang lembut menyerupai suara Ibu itu berhasil membuatku jatuh hati padanya. Aku dapat merasakan kasih sayangnya padaku. Akankah ia datang menemuiku lagi? Atau mungkin, kini ia sedang melihatku dari jauh? Entah, hanya dialah yang tahu. Tapi, jika Malaikat Baik membaca tulisanku ini, kau perlu tahu bahwa aku benar-benar menginginkan sosokmu kembali. Aku ingin kau membantuku dalam menjalani hari-hari senduku ini. Aku ingin memiliki teman, meski hanya kau seorang diri. Aku menyayangimu. Tapi, aku tak memaksa kau untuk kembali. Semua itu pilihanmu. Yang pasti, aku berterima kasih padamu karena telah mewujudkan kenangan manis di “dunia yang suram” ini. Sebenarnya, aku ingin kenangan manis itu terulang. Namun, terulang tidaknya kenangan manis itu, hanya kau yang bisa menentukan. Akankah kau mewujudkan dirimu lagi? Atau kau pergi untuk selamanya..

Setelah selesai menggoreskan penaku, aku pun menghela napas kasar. Mungkin kau pikir aku gadis yang suka mengeluh dan lemah, namun bagiku tidak. Sekuat-kuatnya manusia pasti ada saatnya ketika mereka lelah akan kehidupan mereka. Mereka juga punya batas kesabaran masing-masing. Aku tidak bilang diriku kuat. Yang pasti saat ini aku benar-benar lelah. Tapi, bagaimana pun juga, hanya akulah yang bisa membangkitkan diriku.

Waktu terasa berjalan dengan sangat lamban bagiku. Aku pun mulai berpikir cara agar waktu terasa lebih cepat. Akhirnya, kurogoh kembali buku yang merupakan satu-satunya benda yang kubawa ke tempat ini. Goresan-goresan penaku itu membentuk sebuah gambar. Aku pun puas dengan gambarku itu. Gambar yang menunjukkan seorang gadis dan ibunya sedang tertawa lepas. Ya, kalian benar, gambar itu menampilkan diriku dan ibuku.

Aku rindu melihat tawa lepas ibuku. Aku tak bisa berhenti memikirkannya. Bagaimana kabarnya kini tanpaku? Apalagi, ia sendiri sekarang. Ya, dulu kami hanya tinggal berdua. Ayahku meninggal saat aku berusia 6 tahun, dan aku tak mempunyai saudara kandung. Maka dari itu, aku sangat khawatir kepada Ibu. Apakah perasaan-perasaan yang kini aku rasakan, dirasakan Ibu juga?

“Bu, semoga Ibu baik-baik saja ya, tanpaku..” batinku pelan sembari melirik gambar tersebut.

Tanpa disangka, gambar itu pun terbang terbawa angin. Aku pun sempat terkejut karena kehilangan kertas yang tadi kupegang di tangan kananku. Namun, tak lama kemudian, seulas senyum terbentuk di bibirku. Setelah kupikir, ini pasti ulah Malaikat Baik.

“Pertanda apakah?”

Apakah artinya, ia akan kembali??” tanyaku girang.

***

Advertisements
Posted in Stories, Uncategorized

“Take My Pain Away” ~Prolog

POV Adina Aprillia Putri-

“Sepandai-pandainya kamu menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga baunya,” ucapku datar tanpa emosi. Berbeda dengan perempuan dihadapanku yang sedari tadi tertawa puas dan menatapku penuh kebencian. Setelah segala fitnah kejam yang Ashira tancapkan padaku, hanya kalimat peribahasa itulah yang terlontar dari mulutku. Aku tahu, tak ada gunanya untuk membalas.

Semua fitnah Ashira itu merubah 180 derajat hidupku. Tak ada lagi kasih sayang yang aku dapatkan dari kedua orang tuaku. Tak ada lagi yang mempercayaiku. Satu per satu orang pergi meninggalkanku. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Vino. Vino, sahabat kecilku yang sangat mengenal diriku, yakin bahwa fitnah dan tuduhan Ashira itu hanyalah kepalsuan. Karena Vino, aku bisa bertahan dan berdiri tegar di dunia yang kejam ini.

“Sekarang, cuma lo yang gue punya. Dan, ketakutan terbesar gue itu adalah untuk kehilangan lo, Vin,” tukasku dalam dekapan erat Vino.

“Lo nggak perlu takut, Din. Untuk kesekian kalinya, gue janji, gue bakal bantu lo buat ngebuktiin kalau lo itu nggak seperti Adina yang mereka kenal selama ini dan gue janji untuk terus ada disamping lo kapan pun lo butuh gue.” Vino mengusap lembut rambutku.

Walaupun hanya memiliki Vino disampingku, aku bahagia. Ia lebih dari cukup bagiku. Vino selalu bisa membuatku merasa aman dan nyaman bila bersamanya. Hal itu dibuktikan dengan prilakunya yang selalu meyakinkanku bahwa ia menyayangiku, menghiburku, menghapus air mataku, dan menemani kesepianku. Walau terkadang keusilannya membuat aku geram, aku sangat bersyukur karena memilikinya.

Namun, semua itu lenyap seketika. Tak ada lagi sosok Vino dalam hidupku. Perkataan lembut, tatapan penuh arti, usapan lembut, dekapan hangat, dan belaian manis dari lelaki yang sangat aku cintai itu seketika pudar dan berubah menjadi bentakan kasar dan sikap dinginnya padaku.

Hingga suatu hari, ketakutan terbesarku menjadi nyata. Vino benar-benar pergi meninggalkanku. Terlebih lagi, ia meninggalkanku tanpa alasan yang aku ketahui. Ia bertingkah seolah-olah tak pernah mengenal diriku. Kini, hari-hariku terasa sungguh sepi dan suram. Seakan-akan kebahagiaanku lenyap dan tingallah kenangan. Aku merasa benar-benar sendiri, dengan terus berpikir apa alasan Vino meninggalkanku. Bagaikan terombang-ambing di lautan bebas dan yang bisa kulakukan hanyalah menunggu tiba waktunya untuk tenggelam.

Satu-satunya alasanku untuk terus bertahan telah pergi. Lantas, untuk siapakah aku harus berjuang? Kini, aku sama sekali tak menemukan alasan untuk bangkit. Ralat, mungkin aku bisa membangkitkan diriku; bila Vino kembali padaku.

***

Untuk part selanjutnya, cek di wattpadku yaa (jangan lupa vote+commentsnya~) : https://www.wattpad.com/471398746-take-my-pain-away

Posted in Stories, Uncategorized

“Knowing Her in Silence” ~Prolog

POV 1 – Sam

Kutatap balik sepasang mata “puppy eyes” perempuan yang sedang berada dihadapanku itu. Bibirnya melengkung membuat sebuah senyuman manis yang membuatku refleks tersenyum pula. Namun, sejak itulah aku mengetahui bahwa selama ini, senyum yang selalu ia tebarkan adalah senyum palsu; bukanlah senyum yang tulus. Sejak itulah aku ingin mengenalnya lebih dalam lagi. Beribu-ribu hal dan kenangan pahit telah lama ia simpan rapat-rapat sendirian. Ralat, kelak, aku akan mengetahuinya juga. I will knowing her in silence, without her knowledge.

***

POV 2 – Anna

Annamarie Rochella Agatha.  Yap, itu nama gue, gue biasa dipanggil Anna. Annamarie, katanya sih arti nama gue itu “penerima kegembiraan/yang pantas mendapat kebahagiaan”. Di mata semua orang sih gue emang nampak sangaaaaat bahagia. But, I’m not sure that I’m really happy. Ada yang bilang kalau katanya “orang yang terlihat paling bahagia itu, terluka di dalam”, dan gue rasa itu bener. Nyatanya, dibalik senyum dan ketawa gue, terkubur duri-duri kepedihan di hati gue. Tapi, gue emang sengaja nyimpen itu sendirian, gue nggak mau ada seorang pun yang tau. Mungkin, kalian pikir gue aneh, but that’s the reality. Gue nggak pernah percaya sama orang lagi setelah kejadian dua tahun silam itu terjadi. Actually, gue sendiri cape. Cape buat mainin perasaan gue yang sebenarnya. Tapi, gue rasa, hal termudah yang bisa gue lakuin cuma dengan tersenyum. Dengan senyuman gue, gue berhasil memerankan pemeran tokoh lain yang bukan diri gue. Kita liat aja, sampe kapan kebohongan gue terungkap nantinya.

***

Untuk part selanjutnya, silahkan dibaca di wattpad-ku yaa (jangan lupa vote+commentsnya~) : https://www.wattpad.com/491463958-knowing-her-in-silence

Posted in Uncategorized

Acara 17-an Semi Palar!

Bandung, 18 Agustus 2017.

Pagi itu diawali dengan upacara bendera yang dilaksanakan di sekolahku, Semi Palar. Peserta upacara tersebut merupakan jenjang PG, TK, SD, dan SMP. Sedangkan petugas upacaranya adalah jenjang KPB (Kelompok Petualang Belajar). Saat ini, aku duduk di kelas 8 atau SMP 2. Maka dari itu, aku berperan sebagai peserta upacara. Sebagai peserta upacara, kami diwajibkan untuk memakai baju Nusantara. Kutengokkan leherku ke kiri dan ke kanan, melihat pakaian teman-temanku yang lain. Banyak dari mereka yang mengenakan pakaian batik yang bermotif unik. Selain itu, banyak pula dari mereka yang mengenakan kebaya atau hanya memakai aksesoris bernuansa Nusantara.”Wahh.. Sungguh indah dan beragamnya pakaian Nusantara Indonesia ini,” batinku seraya tersenyum.

Setelah upacara selesai, kami (murid-murid SMP) pun segera berpencar sesuai bagiannya masing-masing untuk menyiapkan acara 17-an yang telah direncanakan dari jauh-jauh hari. Meski bukan untuk yang pertama kali dirayakan, acara 17-an ini berbeda dengan acara 17-an yang dilaksanakan tahun-tahun lalu. Acara 17-an kali ini merupakan salah satu program OSIS, hal itulah yang membedakan acara 17-an tahun ini. Alhasil, yang mengurus konsep hingga proses acara 17-an kali ini adalah siswa-siswi SMP Semi Palar, juga dibantu oleh campur tangan Kak Fitri.

Sebelum tanggal 18 Agustus 2017; hari pelaksanaan acara 17-an tersebut, kami telah membagi peran terlebih dahulu. Ada yang berperan sebagai pelaksana lomba balap sarung, lomba makan kerupuk, lomba perang bantal, lomba bakiak, logistik, keamanan, dan pengurus bazaar. Aku merupakan salah satu anggota kelompok pengurus bazaar, bersama dengan teman-temanku yang lain : Naia (kelas 8), Fauzan (kelas 9), dan Tyogo (kelas 9).

Pada H-1 pelaksanaan acara tersebut, aku sempat mendengar kabar bahwa bazaar akan ditiadakan. Namun, aku rasa, sangat disayangkan bila bazaar tersebut akan ditiadakan., karena menurutku, bazaar tersebut akan menjadi ciri khas dan keunikan tersendiri dalam acara tersebut. Setelah aku dan teman-teman kelompokku yang lain berdiskusi, kami akhirnya memutuskan untuk mengadakan bazaar tersebut dengan usaha kami sendiri. Akhirnya kami pun mendiskusikan dan membuat alernatif solusi untuk mengadakan bazaar tersebut. Dari tiga alternatif solusi yang kami temukan, satu alternatif solusi yang kami pilih adalah dengan membuat makanan tradisional sendiri dan menjualnya nanti di acara tersebut.

Awalnya, kami berencana untuk main ke rumah Fauzan dan memasak bersama disana. Namun, dikarekan lokasi rumahnya yang terlalu jauh, kami pun memutuskan untuk bertemu di rumah Kak Fitri dan memasak disana. Tapi, sangat disayangkan, karena pada 17 Agustus 2017, supirku diliburkan sehingga tidak ada yang dapat mengantarku untuk pergi ke rumah Fauzan. Naia pun berhalangan hadir hari itu. Sehingga, hanya Fauzan dan Tyogo lah yang dapat hadir ke rumah Kak Fitri. Kak Fitri, Fauzan, dan Tyogo pun membuat cilok bersama. Aku sangat merasa bersalah dan sedih karena tak dapat ikut membantu mereka.

Kembali lagi di hari pelaksanaan tersebut. Setelah upacara dibubarkan, aku, Naia, Fauzan, dan Tyogo bergegas untuk memanaskan cilok di ricecooker karena sebentar lagi acara akan dimulai. Aku pun melihat beberapa teman-temanku yang lain sedang sibuk mempersiapkan lomba.

Setelah itu, kami bekerjasama untuk memasang meja, membuat pricelist, dan menata makanan tradisional tersebut dengan rapi. Tak hanya cilok buatan Fauzan, Tyogo, dan Kak Fitri saja yang dijual disana, ada pula beberapa kue-kue basah yang dibeli Kak Fitri pagi itu, seperti ongol-ongol, klepon, awug, dan lain-lain. Ada juga kue burayot dan ali agrem buatan Kak Fitri.

Setelah mendiskusikan harga, kami pun memutuskan untuk menjual cilok seharga Rp 2.000/tusuk, kue-kue basah seharga Rp 3.000/tusuk, dan burayot/ali agrem seharga Rp 1.000/tusuk.

Kebanyakan dari mereka membeli cilok. Sampai-sampai, cilok yang dibuat 30 tusuk pun habis terjual tak bersisa. Kami pun kesulitan karena banyak yang tidak sabaran mengantri untuk membeli memesan cilok. Meski begitu, kue-kue basah yang kami jual tidak habis karena tidak terlalu laku pembeli.

Acara 17-an hari itu berjalan dengan lancar. Kami pun sangat senang karena usaha kami membuahkan hasil yang luar biasa. Lomba-lomba yang diadakan berjalan dengan lancar. Bazaar kami yang hampir ditiadakan pun akhirnya ada dan berjalan dengan sukses. Kami pun sangat bangga. Atas kerjasama kami, kami pun dapat meraih tujuan bersama.

Setelah acara 17-an tersebut selesai, kami berkumpul terlebih dahulu di kelas 9 untuk proses evaluasi berjalannya acara 17-an hari itu. Karena kue-kue basah yang kami jual bersisa, akhirnya kami pun memutuskan untuk membagikan kue-kue basah tersebut kepada teman-teman yang lain.

Dan, hari itu memberi makna bagiku bahwa kebersamaan adalah aspek yang sangat penting dalam kehidupan kita. Kebersamaan (togetherness) mampu mempersatukan kita, memberikan kita keamanan, dukungan dan juga perasaan saling memiliki satu sama lain. Selain itu, kebersamaan pula yang dapat menumbuhkan rasa cinta kepada orang lain di sekitar kita.

Posted in Uncategorized

Article Review #1 : “Indonesian students ‘tempeh’ arrives in space”

This article tells about Indonesian students who worked on several research projects about soy fermentation process. The result is a tempeh, soybean foods that are popular all over the world and are known as healthy foods. The Superior Team of Del ISS Project 2, consisting of eight “High School Del” and two students from the “Del Technology Institute” in North Sumatra, participated in the sixth installment of a project aimed at creating, constructing, testing and conducting a research experiment at the International Space Station (ISS).The study was conducted in space. In microgravity, the fermentation process could be completed in just one day, while on Earth the process took two to three days. However, research data would be sent to Earth three times a week for analysis. “Ttempeh” is rich in calcium, iron, vitamin B and fiber, the experiment also hopes that the nutritional food can be alternative sustenance for future astronauts.

The purpose of this article is to motivate today’s teenagers to do useful things, as shown in this article, teens do research on “tempeh”. This article also tells the public that to do something, we must have great intentions and dreams. Doing anything can start from the smallest thing possible from an early age.

For me, this article is very interesting because it can provide new insight and knowledge for another people. This article also motivates and encourages us to do something seriously and we will achieve our dreams.

http://www.thejakartapost.com/youth/2017/06/19/indonesian-students-tempeh-experiment-arrives-in-space.html

Being young to me is where I can spend much of my time playing and learning. Being young is the time when I have to find the provision of knowledge and experience as much as possible for me because being young is a learning process to become an adult.

My role as an Indonesian youth is to keep on learning, to deepen my knowledge, and to explore my hobbies or interests. So later on, when I grow up, I can produce something that can boast my country, Indonesia.

Posted in Curahan Hati Kecilku

My Last Goodbye

Bagaikan terjebak dalam sebuah ruang

Ruang yang gelap, kelam, dan menakutkan

Tak tahu arah mana untuk kembali

Hanya bisa terdiam meratap.

Melihat semua orang perlahan pergi,

membiarkanku untuk terus menonton semua kepergian mereka,

serta mendengar segala pamit.

Hingga kini, sisalah aku seorang diri.

Kesendirian yang menyakitkan,

Membuatku muak akan semua ini.

Setelah segala pamit,

Haruskah kini aku yang mengucapkan selamat tinggal?

***

Aku memilih untuk diam. Itu lebih menyenangkan bagiku. Tidak ada yang bisa mendengarkanku.

Kini, hari yang sangat kutakuti akhirnya tiba. Dimana aku benar-benar sendiri. Dimana semua orang benar-benar pergi meninggalkanku. Dimana semua orang berhenti memedulikanku. Dimana semua orang membenciku. Namun, itu tak seberapa, dirikulah yang merupakan pemeran utama dalam hal itu. Stttttt.. aku lebih kejam berlipat kali ganda dibandingkan mereka. Sekali dua kali, aku pun takut dengan diriku sendiri.

Aku tahu, begitu sulit kalian untuk menerima dan menyukai diriku. Begitu pula aku sendiri. Aku paham, aku hanyalah bencana bagi kalian semua. Aku hanyalah kesalahan bagi kalian. Aku tak berguna; aku hanya menghabiskan tempat di dunia ini, tanpa memberikan kontribusi apapun. Aku tahu, orang sepertiku tak layak hidup. Bahkan, bila ada kesempatan, aku ingin memberikan sisa hidupku kepada orang lain. Orang lain yang lebih pantas hidup dibandingkan aku yang hanya sebatang kara, orang lain yang lebih bisa memanfaatkan makna kehidupan dibandingkan aku. Aku yang hanya bisa hidup terombang-ambing di lautan, menunggu tiba saatnya untuk tenggelam.

Aku diam bukan karena memang tidak ada yang ingin kukatakan. Sebenarnya, hati kecilku berteriak. Aku ingin berteriak sekeras mungkin, agar dunia tahu apa yang sebenarnya kurasakan selama ini. Hmm, lupakan, aku baru sadar bahwa dunia takkan pernah menganggapku ada. Sekeras apapun teriakanku, tak ada yang mau mendengar. Lebih baik aku diam, Ya, seperti tadi yang kukatakan, diam lebih menyenangkan bagiku.

Namun, kini aku sadar. Diam tak selamanya menyenangkan. Perlahan aku lelah untuk memendam semua ini seorang diri. Sehingga aku memutuskan untuk menulis semua ini. Aku harap kalian membacanya. Aku tak peduli bahwa kalian akan menganggapku seperti apa setelah membaca semua ini. Mungkin kalian akan menganggapku terlalu berlebihan, aku hanya mencari perhatian, aku masih kekanak-kanakan, atau bahkan kalian menganggapku gila. Tidakpapa, aku tak akan menyalahkan kalian. Aku hanya ingin kalian tahu apa yang selama ini kurasakan. Selepas itu, semua terserah kalian.

Aku tak pernah memaksa kalian untuk peduli denganku. Karna aku tahu, itu hanyalah menyusahkan kalian. Toh, ujung-ujungnya kalian juga lelah untuk menghadapiku. Sejujurnya, aku pun lelah dengan diriku. Berkali-kali aku berpikir untuk mengakhiri hidupku. Karena hidup di dunia ini tak ada yang abadi, kecuali kehidupan setelah kematian nanti. Kehidupan adalah kebohongan yang indah, sedangkan kematian adalah kebenaran yang menyakitkan.

Aku ingin mati. Tapi, aku belum berani mengambil keputusan itu. Aku hanya ingin ada orang yang memedulikanku. Aku hanya ingin ada orang yang menganggapku hidup dan takut kehilanganku, meski hanya satu orang saja. Namun, itu tak kan terjadi. Bagaimana bisa ada orang yang takut kehilanganku bila aku hanya meninggalkan kenangan pahit di hidup mereka.

Sebelum kepergianku, aku ingin meminta maaf pada kalian semua. Dengan tulus, aku meminta maaf karena harus hadir di kehidupan kalian. Aku meminta maaf karna kalian harus mengenal orang seperti aku. Aku meminta maaf karena harus menjadi diriku yang tidak kalian harapkan, bahkan diriku pun sama sekali tak mengharapkannya.

Terima kasih pula atas kalian yang telah bersabar menghadapi diriku, meski pada akhirnya kalian pun menyerah atas diriku, dan mungkin, diriku selanjutnya lah yang akan menyerah. Terima kasih pada kalian yang sudah berjuang keras untuk mengubah diriku untuk menjadi lebih baik, meski hasilnya nihil.

Mungkin, kalian menyesal karena harus bertemu denganku. Tapi, aku pun bisa melakukan hal itu, aku bisa membalas sebaliknya pada kalian. Sebenarnya, aku pun menyesal karena harus mengenal kalian semua. Detik ini, aku benar-benar membenci semua orang, termasuk diriku. Aku membenci semua orang. Semua orang jahat dan kejam. Semua orang pembohong. Semua orang egois. Tak ada orang yang bisa kupercayai lagi.

Maaf atas keputusanku yang sudah bulat ini, aku menjauh dari kalian semua karena aku lelah hidup diantara kalian semua. Aku berperilaku dingin seperti ini karena aku ingin menjauh dari kalian semua. Lebih baik, aku yang menjauh terlebih dulu, dibandingkan kalian yang meninggalkanku dan hingga akhirnya aku terluka lebih dalam. Aku lelah untuk mendengar segala ucapan pahit dan kejam kalian padaku. Aku tak kuasa lagi mendengar semua itu, hingga aku memutuskan untuk menulikan telingaku dan membangun tembok pertahananku yang tinggi diantara kalian semua.

Untuk itu, aku mohon, tak usah pedulikan diriku lagi, tak usah pikirkan aku lagi, anggap saja aku tidak pernah ada dan kalian tak pernah mengenalku sebelumnya. Aku ingin melupakan kalian semua. Aku harap kalian pun melupakanku. Maafkan aku karena harus pergi meninggalkan kalian dengan sudut pandang buruk terhadapku.

Kini, sudah saatnya aku mengucapkan selamat tinggal pada kalian semua. Entahlah, apakah itu ucapan selamat tinggal sesaat, atau selamanya. Hanya takdirlah yang kan’ menentukannya.

“Takdir yang mempertemukan kita, maka takdir pulalah yang akan memisahkan kita,” Let’s just wait and see. Apa yang akan terjadi selanjutnya dan kemana takdir akan membawa aku pergi.

“Aku harap setelah kepergianku, kalian semua bisa jaga diri baik-baik. Aku harap, selepas kepergianku, keadaan jauh lebih baik. Buktikan perkataan kalian bila keadaan lebih baik tanpa adanya aku. Sebesar-besarnya rasa benci dan dendamku ke kalian, di hati terdalamku, terukir jelas nama kalian. Walau mulutku tak pernah berhasil mengucap, di hatiku tersimpan beribu-ribu rasa sayang pada kalian semua. Aku harap suatu saat nanti kalian semua sadar, bila aku sangat menyayangi dan mencintai kalian; kalian semua yang pernah datang dan pergi di hidupku.”

Once again, Thank you, I’m Sorry, and Goodbye.

-Cindy Claudia

 

 

Posted in Review

Review Buku #1 : Revan dan Reina

1058077_79f1e886-4787-4066-9bad-cb721e6a8101Profil Buku

Judul buku         : Revan dan Reina

Penulis                : Christa Bella

Penerbit              : Ikon (Imprit Penerbit Serambi)

Genre                  : Romance, Fiksi

Kategori              : Young Adult, Wattpad

Terbit                  : Juni 2016

Tebal                   : 286 hlm

ISBN                     : 978 – 602 – 74653 – 0 – 5

Harga    : Rp. 65.000

………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Revan dan Reina. Sepasang kekasih yang menjalin kedekatan sejak kecil. Walaupun usia Reina lebih tua dibandingkan Revan, hal itu tak menutup kemungkinan atas hubungan asmara mereka yang berkembang pesat seiring mereka bertumbuh.

Revan tahu, terukir nama Fabian di hati Reina. Fabian, lelaki yang sempat datang ke dalam hidup Reina dan seketika pergi meninggalkan Reina tanpa alasan, hingga membuat goresan luka mendalam di hati Reina bila mengingat namanya.

Hal itu membuat Revan tak ingin Reina terluka lebih lagi, ia menunjukkan kasih sayang dan cintanya pada Reina dengan kesederhanaan yang bermakna. Hal yang paling Revan takuti adalah kehilangan Reina di sisinya.

Di sisi lain, muncullah sosok Dira, adik kelas Revan yang diam-diam mencintai Revan atas perhatian-perhatian kecil yang selalu Revan berikan untuknya. Dira tak mengetahui keberadaan Reina yang sudah menempati hati Revan.

Namun apa jadinya bila Fabian datang kembali di kehidupan Reina? Bagaimana dengan perasaan Revan? Akankah hal yang Revan takuti selama ini menjadi nyata? Lalu, apa alasan Fabian meninggalkan Reina dulu?

Kisah ini dikemas dengan sangat realistis. Di tambah lagi dengan alur ceritanya yang sulit ditebak oleh para pembaca, membuat buku ini lebih menarik. Kisah yang diangkat dari wattpad, dan telah dibaca oleh 4 juta kali di wattpad, memiliki alur yang bercampur aduk menjadi satu; kocak, sedih, dan senang. Gaya bahasa sang penulis yang menarik pun membuat pembaca penasaran atas kelanjutan ceritanya dan tak bosan-bosan membaca buku ini.

Hanya saja, terdapat sedikit typo atau kesalahan ejaan penulisan di beberapa kata yang membuat pembaca agak bingung.

Buku ini merupakan salah satu buku yang wajib dibaca oleh kaum lelaki untuk dapat memperlakukan perempuan dengan baik.

 

Posted in Curahan Hati Kecilku

Curahan Hati Kecilku #3 : Pergi untuk Kembali?

“Kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidupmu memang menyakitkan. Apalagi jika ia harus pergi meninggalkanmu disaat kamu mulai mempercayakan seluruh hidupmu padanya. Dan apa jadinya bila ia meninggalkanmu tanpa kabar?”

Pernahkah kau merasa bahwa kau sedang berada dalam sisi terdalam dari perasaanmu? Pikiranmu yang melayang kemana-mana itu lambat laun membunuhmu. Dan, semua itu disebabkan oleh hilangnya sosok manusia yang telah membuatmu terjebak dalam kenyamanan.

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Seorang gadis tak henti-hentinya menyiksa batu pada sebuah batang, batang yang memiliki peran penting atas berdirinya sebuah pohon rindang dan kokoh, pohon satu-satu nya disana, pohon yang menghabiskan hari-harinya bersama gadis tersebut. Malang sekali nasib batu itu. Ia dijadikan sebuah pelampiasan atas semua rasa pahit yang dirasakan gadis itu. Gadis itu berharap agar orang lain pun merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan kini. Maka, terpilihlah si “batu” sebagai objek percobaan untuk pertama kalinya. Ia memperlakukan batu tersebut dengan sangat kejam. Memukulnya, melemparnya, hingga membenturkannya dengan makhluk hidup lain, yang bukan lain merupakan pohon rindang itu. Sang gadis tentu berpikir dahulu sebelum melakukan “penyiksaan” tersebut, hal yang ia pikirkan adalah; dengan melakukan itu, maka ia dapat menyakiti 2 objek sekaligus, yaitu si batu, serta pohon yang menjadi imbas pukulan dan benturan batu tersebut.

Kini, gadis itu, hmm.. lebih tepatnya aku.. Ya, saat ini aku memang benar-benar terlihat sebagai manusia yang tak punya hati, bahkan sedikit condong pada gadis gila. Aku berteriak sekeras mungkin, namun bodohnya, aku tak menyadari bahwa suara teriakanku akan berbalik kembali dalam diriku, karena telinga yang berperan sebagai indera pendengaranku.

Entah bagaimana lagi untuk “menetralisirkan” perasaanku ini. Karna semua hal yang kulakukan dengan tujuan dapat memperbaik keadaanku, justru malah membuatku jatuh ke lubang yang lebih dalam.

Apalagi, semenjak kepergian sang Malaikat Baik tiga hari yang lalu. Hal itu membuatku semakin tak bisa mengatur diri hingga perasaanku. Benakku berhasil dibuat pusing oleh pertanyaan-pertanyaan yang bertanya mengenai kepergiannya, kepergian Malaikat Baik, satu-satunya sosok yang kutemui sedang mondar-mandir di pikiranku saat ini.

“Untuk apa dia datang masuk ke celah kehidupanku bila pada akhirnya ia pergi tanpa alasan?”

“Mengapa ia harus pergi disaat aku mulai merasa nyaman dengannya?”

“Mengapa ia tega membuatku jatuh?”

“Mengapa ia mendustai seuntai janjinya untuk melindungiku dari sekian perasaan mautku?”

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Aku mengambil nafas dan mengeluarkannya secara kasar. Ingin sekali rasanya berada dalam dekapannya. Ingin sekali mengetahui kabar dan keberadaannya kini.

“Kemana ia pergi? Apa tujuan ia pergi?” ENTAH, hal itu masih menjadi misteri yang belum terungkap.

Kepergian Malaikat Baik sama sekali tidak membuatku merasa lebih baik, namun sebaliknya, menjadi lebih buruk. Tak jarang aku berpikir semua kesalahan yang telah kuperbuat padanya, yang membuat ia tega mengucapkan “selamat tinggal..” padaku.

Betapa bodohnya aku. Sebelumnya, tak pernah kubayangkan hari tanpanya. Tak pernah kubayangkan rasa kehilangannya. Mungkin karena di saat itu, aku terlalu fokus dalam kenyamanan dan kehangatan bersamanya. Alhasil, aku belum menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menerima kenyataan, yaitu menjalani hari-hari tanpanya, kini, sehingga terasa lebih menyakitkan.

“Akankah ia pergi untuk kembali?”

Posted in Curahan Hati Kecilku

Curahan Hati Kecilku #2 : “Dekapan Sang Malaikat Baik”

Detik ini aku masih berkutat dengan keheninganku. Keheningan yang mengantarku ke ‘dunia yang suram’. Aku masih berada tepat pada posisi yang serupa seperti yang pernah kuterangkan dahulu, pada Curahan Hati Kecilku #1 : “Aku dan Hujan;Tangisan Awan”.

Entah sampai kapan aku tahan menginjakkan kaki serta seluruh jiwa dan ragaku disini. Sendiri. Aku lelah menerima semua kenyataan ini.

Tiba-tiba, tampak secarik kertas kecil berwarna putih berukuran 4cm x 4cm melayang di udara, terbawa kesana-kemari oleh angin. Tanpa kusangka sebelumnya, kertas tersebut mendarat tepat diatas telapak tanganku. Iseng saja, kubalik kertas itu. Wah, nampak sebuah tulisan yang terlampir pada kertas itu. Sayang sekali, tulisan tersebut sangatlah kecil, membuat aku sulit untuk membacanya. Lima detik berlalu, dan aku masih belum dapat membaca satu kata pun dalam kertas tersebut.

“Jangan menyerah.. Sekarang, tolehkan kepalamu ke kiri,” -bisikkan itu membuatku terperangah terkejut, disertai sedikit rasa takut. Aku mencoba untuk mencari asal suara bisikkan itu ke segala arah, namun tak membuahkan hasil. Entah aku harus senang atau malah takut dengan suara itu. Di satu sisi, aku senang bahwa kini aku tak sendirian. Namun, di sisi lain, aku merasa takut.

“Lakukan apa kataku tadi, tolehkan kepalamu ke kiri..” Suara itu kembali terdengar di telingaku, tanpa basa-basi, segeralah kutolehkan kepalaku ke kiri. Yang kulihat hanyalah semak berduri. Aku pun berusaha mencerna seluruh kata per kata yang diucapkan oleh suara misterius yang kudengar tadi. Kutolehkan leherku untuk yang kedua kalinya, berharap dapat melihat wujud dari sang pembisik misterius itu.

Namun, yang kulihat bukanlah wujud pembisik tersebut, melainkan sebuah kotak berbentuk kubus berwarna coklat. Kuhampiri kotak kubus tersebut, dan kubuka perlahan. Keraguan menghantui diriku, sehingga aku membuka kotak kubus tersebut dengan kedua tangan yang bergetar dan kedua mata yang terpejam. BRAK! Akhirnya, kotak tersebut berhasil terbuka sempurna, kubuka perlahan indra penglihatanku yang tadinya kututup rapat. Aku pun menghembuskan nafasku karena merasa lega, ternyata isi kotak tersebut bukanlah hal-hal berbau mistis seperti yang kubayangkan sebelumnya. Isi kotak tersebut merupakan sebuah benda yang masih terbalut rapi dengan kain berwarna putih. Kubuka balutan kain tersebut dan menemukan sebuah kaca pembesar yang berukuran sedang dan terlihat masih baru. Kucari petunjuk lainnya dalam kotak tersebut dengan membolak-balik kotak tersebut, namun tak ada hal lain yang kutemukan selain kain dan kaca pembesar itu.

Sekejap, aku dapat mengerti maksud dan tujuan si ‘pembisik miserius’ dengan memberikan kaca pembesar padaku. Aku pun langsung mengambil kertas yang didalamnya terlampir oleh tulisan-tulisan yang sampai kini, belum dapat kubaca. Namun kuyakin, cepat atau lambat aku pasti dapat memecahkan tulisan-tulisan tersebut. Tentunya, dengan bantuan kaca pembesar itu.

Ternyata, kertas itu berkata,”Bila kau diberi kesempatan untuk meminta 3 hal, apa yang akan kau minta?”. Aku pun berniat untuk membaca ulang kalimat pada kertas itu untuk yang kedua kalinya, memastikan bahwa tulisan yang kubaca, benar. Namun, tulisan itu seketika hilang sirna. Yang tersisa kini hanyalah kertas polos tanpa sedikit coretan pun yang tadinya tampak.

Aku pun menghembuskan nafasku secara kasar. ‘Hufftt! Tak mungkin rasanya kertas itu berbicara seperti itu. Ah, mungkin saja aku salah membacanya atau mungkin, aku yang terlalu berharap.’, pikirku. Namun, aku kembali teringat pada seseorang yang membisik tadi. Si pembisik itu memberikanku kaca pembesar, yang bukan lain merupakan alat pembantu agar aku dapat membaca tulisan pada kertas itu. Hmm, lagian apa salahnya kalau aku mencoba? Tanpa ba-bi-bu lagi, segeralah aku merubah posisi berdiriku menjadi posisi duduk belutut, memejamkan mata, melipat kedua tanganku, sembari memanjatkan tiga permintaan.

Di kesempatan pertama, aku meminta untuk dapat melihat wujud dari sang pembisik tadi.

Sedangkan di kesempatan kedua, aku meminta untuk diberikan seseorang yang akan membimbingku dan menyertaiku selama aku berada dalam dunia yang suram ini.

Terakhir, aku meminta untuk pulang ke dunia dimana aku dilahirkan; dunia yang nyaman dan penuh dengan kehangatan.

“Apakah kau yakin dengan ketiga permintaanmu tadi?” -Entah bagaimana dan mengapa, kalimat pertanyaan tersebut tiba-tiba terngiang dalam diriku. Namun, bukan tengiang di telingaku, melainkan di pikiranku. Suara itu terdengar serupa dengan suara si pembisik misterius. Suara yang terdengar halus dan lembut seperti suara orang yang sangat dekat denganku, serta orang yang sangat kuinginkan kehadirannya di saat ini, ya, ibuku.

“Ya, aku yakin” jawabku dengan tegas.

“Baiklah..biar kujelaskan, 2 dari ketiga permintaanmu tadi bisa kukabulkan. Namun sayang sekali, satu permintaanmu tak bisa kukabulkan. Tapi, kuharap itu bisa membantumu,”-Suara yang sama terdengar kembali dalam pikiranku.

Aku pun terdiam untuk mencerna perkataan yang kudengar tadi, suasana berjeda hening tanpa terdengar suara apapun. Namun, kondisi tersebut tak bertahan lama, kembali aku dengar suara yang sama seperti ibuku berkata demikian,”Baik, aku akan memunculkan wujud asliku, tapi, berjanjilah padaku bahwa kau takkan terkejut. Sekarang, bukalah kedua matamu dan kau akan melihat siapa aku yang sebenarnya..”

Sebelum kuturuti pemintaan suara itu untuk membuka kedua mataku, aku sempat berharap bahwa wujud yang nanti akan kulihat ialah ibuku. Namun, ternyata harapanku tak menjadi nyata. Ia bukan ibuku, namun ia terlihat mirip dengan ibuku. Dari wajah,suara, hingga fisiknya, semua terlihat mirip dengan ibuku. Namun, ada beberapa hal yang membedakannya dengan ibuku yaitu: ia memiliki sepasang sayap putih, sedangkan ibuku tidak, ia juga berusia masih muda, mungkin selisih usia denganku hanya berjarak 10 tahun. Kuamati terus wujudnya hingga aku menyadari bahwa ia memegang sebuah tongkat peri di tangan kanannya. Kami saling bertatapan; ia menatapku lembut, sedangkan aku menatapnya dengan tatapan bingung.

“Kakak siapa?” tanyaku pelan.

“Aku adalah si pembisik tadi, aku juga merupakan jawaban dari permintaan keduamu, ya, akulah yang akan menemanimu disini, di dunia yang katamu suram ini..hehe” Ia pun tertawa kecil.

Aku pun tak membuka mulutku lagi dan terus menatapnya dengan tatapan tajamku yang sepertinya membuatnya tak nyaman. “Tenang saja, aku bukan ingin menakutimu dan membuatmu semakin bingung. Aku adalah sang malaikat baik, yang akan selalu ada untukmu. Mulai sekarang, kamu tidak sendiri lagi disini, ada aku yang akan menemanimu,” ucapnya.

Aku heran, mengapa ia bisa terlihat se-santai dan se-lembut itu berada di dunia ini, sedangkan aku?

“Kalau begitu, antar aku pulang ke dunia asalku,” ujarku pada Malaikat Baik itu.

“Maaf, sayang. Seperti yang kukatakan sebelumnya, bahwa ada satu dari ketiga permintaanmu yang tak bisa kuwujudkan. Aku tak berhak membawamu pulang ke dunia asalmu, tapi aku bisa menemanimu dalam menjalani hari-harimu disini.” ucapnya dengan senyum simpulnya.

Kelopak mataku tak bisa menahan tetesan kristal bening yang hendak turun mengalir ke pipiku ketika mendengarnya berkata bahwa ia tak bisa membawaku pulang ke dunia yang sangat kurindukan, artinya aku akan terus berada di dunia suram ini.

Dapat kurasakan sebuah tangan yang mendarat di pipiku dan menghapus air mataku, “Aku pernah berada dalam posisimu saat ini,aku tahu rasanya..”

Air mataku mengalir semakin deras. Tanpa kusadari, aku telah berada dalam dekapan sang Malaikat Baik. Ia memelukku erat dengan kedua tangan halusnya sembari mengelus rambutku. Entah mengapa, aku merasakan kehangatan dan kenyamanan yang belum pernah kurasakan sebelumnya, dalam dekapan sang Malaikat Baik.

-bersambung-

Posted in Curahan Hati Kecilku

Curahan Hati Kecilku #1 : “Aku dan Hujan;Tangisan Awan”

Hari ini hari ke-25 di bulan pertama tahun 2017. Waktu menunjukkan pukul 18.30 dan aku sedang duduk berhadapan dengan layar komputerku. Entah. Suasana seakan hening, sampai suara tetesan air dari keran yang tak tertutup sempurna dapat kudengar dengan jelas. Untuk mengatasi keheningan itu, aku pun memutar sebuah lagu. Memang, hening itu hilang. Namun, malah menarikku masuk ke dalam dunia baru. Dunia yang suram, sepi, dan mengerikan.

———–

Tak ada seorang pun di sana. Ya, hanya aku. Sendiri. Ku tolehkan leherku ke atas, ku lihat langit sekejap mendung, seakan mau hujan. Dan ternyata benar, lima detik kemudian,prediksiku terbukti. Hujan. Hujan itu membuat suasana yang sepi semakin sepi. Tak berapa lama kemudian, tubuhku menggigil, kedinginan. Aku pun berniat untuk berteduh dibawah sebuah pohon besar yang berjarak cukup dekat dari tempat dimana aku berdiri sekarang. Aku berlari sekencang mungkin menuju pohon itu dan duduk dibawahnya. Kebetulan, di belakang pohon rindang tersebut berdiri sebuah tembok tua. Aku pun menyandarkan punggungku pada tembok tua bercat hitam sembari duduk bersila tepat dibawah pohon tersebut. Sambil menunggu hujan reda, karna aku lelah, aku pun memutuskan untuk mengistirahatkan mataku, juga tubuhku. Kusandarkan kepalaku pada batang pohon itu. Setelah menemukan posisi yang nyaman, segeralah kupejamkan kedua mataku.

Akhirnya aku terbangun dari tidurku. Aku melihat ke sekelilingku dan terheran. Tak ada yang berubah satu pun. Langit masih hujan, tak berangsur reda, tak juga semakin deras. Semua terlihat sama seperti tadi. Entah berapa lama aku tidur, tapi kurasa cukup lama. Namun, mengapa tak ada satu pun yang berubah? Aku bingung. Tapi aku yakin, kamu pasti tak tahu bagaimana kebingunganku ini. Hmm… biar aku jelaskan, disini aku masih sendiri, tak ada satu orang pun yang dapat kulihat. Jangankan orang, makhluk hidup lain pun tak terlihat; kecuali pohon rindang yang batangnya sedang kupinjam untuk sandaran kepalaku sekarang. Kiri kanan, hanya terlihat bangunan-bangunan tua yang sebagian darinya sudah roboh.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Mengapa aku bisa sampai ke sini? Jalan mana yang harus aku lalui agar aku bisa pulang ke duniaku yang dulu? Apakah aku benar-benar sendiri? Akankah ada orang yang akan menolongku? Sampai kapan aku berada disini? Apa aku akan menghabiskan sisa hidupku sepenuhnya di dunia yang menyeramkan ini? Semua pertanyaan itu mengalir dalam benakku.

Entah. Aku bingung. Aku lelah akan kehidupan di dunia yang suram ini. Tapi mengapa? Haruskah aku yang berada dalam dunia gelap ini? Salah apa aku hingga terkirim ke dalam dunia ini? Apakah aku satu-satunya orang yang mengalami hidup di dunia gelap ini?

….

Setelah aku menyelesaikan lamunanku, aku mulai melihat ke sekelilingku, untuk ke sekian kalinya. Masih sama. Setelah kugunakan semua kepekaan inderaku, aku mulai menemukan satu perbedaan, mengenai hujan. Kurasa hujan semakin deras. Duh, sampai kapan hujan ini turun, seakan awan tak bisa berhenti menangis. Aku punya dua sudut pandang terhadap hujan yang kini turun. Kalau bicara tentang sudut pandang buruk, hujan deras ini menggangguku, ya, suaranya mengganggu, membuyarkanku dari lamunanku, dan tentunya, menambah suasana yang sunyi, sepi, dan sendiri menjadi lebih lagi. Namun di sisi lainnya, aku merasa sedikit senang, karna punya teman, ya, hujan itu menemaniku, seakan tahu apa yang kurasakan sekarang, buktinya, ia turun semakin deras, seakan awan tak dapat berhenti menangis dan terus menangis semakin kuat. Sama halnya dengan aku sekarang, kedua pipiku sudah terbasahi dengan air mata yang kunjung turun menetes.

Ketakutan, kelelahan, kesendirian, kesedihan, kekecewaan, kesepian, kesunyian, kemarahan, kekesalan, kebingungan, kecemasan, kepanikan, kekhawatiran, kerinduan, kesakitan. Semua perasaan yang aku sebutkan itu berhasil merasuki pikiranku, bahkan tubuhku. Bercampur dan beraduk menjadi satu dan tak karuan.

Satu kalimat yang barusan keluar dari mulutku ini bisa mewakilkan semua rasa ketakutan, kelelahan, kesendirian, kesedihan, kekecewaan, kesepian, kesunyian, kemarahan, kekesalan, kebingungan, kecemasan, kepanikan, kekhawatiran, kerinduan, kesakitan yang tadi aku sebutkan dan terlebih lagi, aku ingat, saat itu adalah saat pertama kalinya aku mengatakan,”Aku benci dunia ini!”

…………………………………………………………………………………………………………………..