What I Really Want to Say to You

What I Really Want to Say to You

Sejenak aku teringat akan masa itu. Aku tertawa kecil ketika beberapa kenangan manis hinggap dalam pikiranku. Namun, beberapa saat kemudian tawaku tehenti ketika mengingat beberapa kenangan pahit yang telah terjadi. Semua kenangan masa laluku bersamamu saling berebut tempat memenuhi pikiranku.

Perpisahan yang mendadak. Tanpa persiapan apa-apa. Mungkin takdirlah yang menentukan kita untuk mengucapkan “selamat tinggal”. Entahlah, atau mungkin diriku sendirilah yang menyebabkan semua berakhir seperti ini, yang pasti bukan akhir seperti inilah yang kumau.

Semua mengalir begitu cepat, sampai-sampai aku tak sempat mencerna apa yang terjadi. Aku tahu, keputusan yang kuambil adalah yang terbaik dalam proses penyembuhanku, tapi tetap saja, mengetahui bahwa terlukanya dirimu, itu juga membuat aku terluka. Dalam peristiwa itu, aku tak menyalahkan siapapun. Karena aku tahu, tujuanmu itu baik, walau dalam prosesnya kita melakukan kesalahan. Aku hanya berharap semua ini membaik, serta berharap bahwa kau tidak menyalahkan aku lagi.

Maafkan aku, bila apa yang kuputuskan ini melukaimu, namun keputusanku itu merupakan bagian dari proses yang harus aku jalani. Aku tak berharap kau mengerti, tapi ini merupakan tahapan yang harus aku lewati dan hadapi. Rasa kecewa dan marah yang kau rasakan merupakan hal yang aku takuti dan harus aku hadapi.

Aku harap kini kau baik-baik disana, sungguh baik-baik saja.

Selepas kau pergi, semua tidak pernah berjalan dengan mudah. Guess what? I miss you every single dayIt’s like everything that I do reminds me of you. Time passes by so slowly when you’re gone. Wish I could tell you that you mean the world to me.

Aku pun ingin memanjatkan ucapan terima kasih padamu, terima kasih untuk menginspirasiku, menginspirasiku untuk menghadapi segala rasa takutku. Terima kasih juga, karena sosokmu, aku punya keinginan untuk berubah menjadi lebih baik lagi, untuk bekerja dalam diriku sendiri. Dan meskipun melakukan ini tanpamu merupakan salah satu hal tersulit yang aku pernah lakukan, aku telah melakukannya. Dan aku harap kau bisa melihatku, melihatku berubah menjadi diriku yang baru, diriku yang kau rindukan, diriku yang kau ingin lihat kembali selama ini. Tapi nyatanya, kau tak disini. Aku hanya bisa berharap bahwa kau bangga terhadapku.

Tak peduli dimana kau berada sekarang, aku akan tetap kuat dan bangkit karena aku tahu kau tak ingin melihatku jatuh. Ketika aku meraih segala impianku kelak, namamulah yang akan kuingat pertama kali, because you’re my biggest inspiration and I want you to be proud of me.

Advertisements
Kebenaran??

Kebenaran??

Sudah cukup aku memendam semua kebohongan ini, aku lelah, untuk selalu menuruti apa maumu. Maka, aku memutuskan untuk menyatakan kebenaran.

Aku tak menyatakan bahwa diriku benar, aku hanya menyatakan apa yang seharusnya kukatakan, apa adanya, tak kukurang-kurangkan, juga tak kulebih-lebihkan. Aku telah sadar, bahwa tak seharusnya aku diperlakukan seperti itu. Aku pun punya hak untuk berbicara, maka kau tak perlu protes akan hal ini.

“Jika Anda mengatakan yang sebenarnya maka Anda tidak perlu mengingat apa pun.” Semua telah aku sampaikan, selepas itu semua terserah. Nyatanya, setelah aku menyampaikan semua, hidupku terasa lebih ringan, dan aku tak perlu mencemaskan, serta mengkhawatirkan apapun lagi.

Dan aku mengetahuinya sekarang, bahwa keegoisan tertanam dalam dirimu. Dirimu yang hanya mementingkan diri sendiri dan mengabaikan perasaan orang lain.

Itu memang pilihanku, untuk menyatakan kebenaran. Dan, pilihan itu telah didasari oleh pemikiran yang matang pula, juga aku tak menyesal atas pilihanku itu. Meski aku harus kehilanganmu, itu tak mengapa. Karena dirimu hanya salah satu bagian kecil dalam hidupku, dan aku, aku masih memiliki banyak orang disampingku, yang memberiku kasih sayang dengan cara yang “benar” dan “tepat”.

Dan, ingat satu hal, “Katakanlah apa yang harus Anda katakan, bukan apa yang Anda seharusnya. Kebenaran lebih baik daripada membuat-percaya.”

Biarlah kebenaran terungkap dengan sendirinya, dan kini, yang perlu kulakukan adalah menunggu hingga saat itu tiba, dimana kebenaran akan terungkap, serta terbuktilah siapa yang menyatakan kebenaran dan kebohongan selama ini.

Losing You..

Losing You..

Semua berlalu begitu cepat. Terakhir kali, aku masih ingat kala kita bersama, melalui hari-hari bersama, juga membuat kenangan-kenangan indah bersama. Namun, semua itu tak bertahan lama, nyatanya, sekarang hal-hal itu sudah tak berlaku lagi diantara kita, kau dan aku. Tak ada lagi hadirmu yang menyertai hariku. Semua hanya tinggal kenangan.

Semua telah berubah. Kini, kita menjalani hidup masing-masing, tanpa adanya kabarmu yang aku terima, juga kabarku yang kau terima. Hari-hari terasa hampa tanpa adanya dirimu. Bagai sayur tanpa garam, semuanya hambar..

Sejujurnya, aku belum siap untuk ditinggalkanmu, juga untuk kehilanganmu. Semua terjadi secara singkat. Benteng tinggi yang telah kita bangun bersama-sama, hancur seketika. Aku tak menyangka hal itu akan terjadi secepat ini.

Mustahil rasanya memanggilmu tuk kembali, dengan keadaan sekarang, dimana kau benar-benar benci dan dendam kepadaku. Sedangkan aku yang tetap diam di posisi semula, tak mundur selangkah pun. Aku tetap mengharapkanmu. Namun, aku tahu harapan itu takkan menjadi nyata, karena kau telah pergi meninggalkanku dan hilang dari pandanganku.

Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan kini. Hidupku berubah tanpa adanya dirimu disampingku.  Kau tahu? Setiap malam benakku dipenuhi oleh ribuan tanya,

“Apakah kini kau masih bertanya-tanya tentang keadaanku?”

“Apakah kau tahu bahwa disini aku terluka dan tak baik-baik saja?”

“Apakah kau tahu bahwa aku disini masih menanti kehadiranmu?”

Rasa sayangku padamu takkan berubah sedikit pun. Meski kau tak menyayangiku lagi, meski kau telah pergi, aku tetap menyayangimu.

Jika dunia menerima rasa ini, aku ingin berteriak untuk menyampaikannya padamu. Namun, situasi tak memungkinkan. Dunia melarangku untuk menyampaikannya padamu. Meski dalam lubuk hatiku, aku benar-benar merindukanmu. Layaknya tanah yang merindukan hujan.

Setiap malam, aku menangisi kepergianmu. Aku benar-benar kehilanganmu. Hidup yang kupersembahkan padamu kini telah hancur seketika. Tak ada lagi dirimu yang kudambakan, tak ada lagi dirimu yang kubanggakan.

Dirimu berpengaruh terlalu besar bagiku. Kini, hidupku bagaikan layang-layang yang putus dari benangnya. Melambung tinggi di angkasa, tertiup angin yang kencang, tak tahu kemana arah untuk kembali. Hanya mengikuti kemana angin ‘kan membawaku pergi.

Kini aku berdiri sendiri, kutolehkan leherku ke kanan dan ke kiri, namun tak menemukan dirimu. Entah dimana dirimu berada kini. Sosok yang dulu kumilikki sempurna, kini telah hilang. Dan aku, merasa benar-benar sendiri. Kini, hari-hari penuh sepi, rasanya sulit untuk melewatinya. Rasanya tak ingin bertahan lebih lama tanpa hadirnya dirimu.

 

 

 

Seuntai Pesan untuk Tuhan (A Letter To God)

Seuntai Pesan untuk Tuhan (A Letter To God)

636242829003646575-1189753894_letter-to-god.jpg

Aku yakin, apa pun yang terjadi, pasti merupakan rancanganMu yang terbaik bagiku. Hidupku ini milikMu, maka aku tak perlu mencemaskan apapun lagi. Segala kemudahan telah Kau berikan bagiku, sehingga aku hanya tinggal menjalani hidupku. Selepas itu, semua kuserahkan padaMu.

Aku yakin, dibalik semua ini, kau telah menyiapkan rencana indah bagiku. Tugasku hanyalah sabar dan menanti, hingga hari itu tiba.

Aku percaya, Kau selalu ada bagiku, disaat semua orang pergi meninggalkanku, Kau selalu tinggal di dalam hatiku, Kau selalu ada di sisiku. Meski terkadang, aku tak menyadari kehadiranmu; ketika aku merasa sendiri dan tak memiliki siapapun. Nyatanya, kau selalu memberikanku kekuatan, untuk menghadapi hari demi hariku. Dan, sampai detik ini pun, aku masih bisa menghirup udara segar di bumi yang telah diberikan olehMu, juga pasti karenaMu.

Terima kasih Tuhan, atas segala kekuatan yang telah Kau berikan. Atas segala manusia titipanMu bagiku, yang membuat aku semakin paham, atas makna kehidupan yang sebenarnya.

Dan pada detik ini pun, seulas senyum mengembang di bibirku, juga pasti karenaMu. Terima kasih Tuhan, atas segala tangis yang menjelma menjadi senyum dan tawaku. Dan di tengah rasa sakitku ini, Kau berikanku kekuatan untuk menghadapinya, sehingga aku bisa berfikir positif dan mempunyai semangat yang besar untuk membangkitkan diriku.

Dan kini, bila Kau mengizinkanku, aku ingin mengucapkan sebuah permohonan padaMu, berikanlah aku kekuatan dan kesanggupan untuk terus bangkit, serta berpikir positif atas diriku, juga hidupku. Rancanglah masa depanku sesuai dengan rencanaMu, Ya Tuhan. Berikan aku kesabaran untuk menanti hari itu, buat aku semakin kuat dan tegar untuk menghadapi segala kenyataan dalam hidupku.

Aku berjalan bersamaMu. Ketika aku menoleh, Kau selalu ada disampingku. Maka, aku tak perlu takut dan ragu untuk melangkah maju. Kau selalu menyertaiku, kemana pun aku pergi. Kau selalu melindungiku, dari segala marabahaya dan malapetaka.

Maafkan hamba, atas segala kesalahan yang telah hamba perbuat. Maafkan aku Tuhan, karena terkadang aku lalai dan tak menaati perintahMu, juga maafkanku yang terkadang mengeluh dalam menghadapi hariku. Maafkanku juga karena sempat membenci dan menghina diriku sendiri, yang berarti aku pun menghina Bait Allah.

Kaulah harapanku, Kaulah segalanya bagiku. Aku tak tau lagi, dengan cara apa kan ku balas kasihMu. Bahkan, ribuan ucapan terima kasihku pun tak cukup ‘tuk membalasnya.

Dan sebagai penutup, aku ingin mengucapkan betapa bahagianya diriku, bisa memilikiMu dan dimilikiMu. Terima kasih Tuhan, atas segalanya yang Kau berikan bagiku.

 

Seuntai Kata Untukmu yang Disana

Seuntai Kata Untukmu yang Disana

527427c2b5c826286b28fa6331a2804dBila orang lain mengatakan seribu untaian kata spesial untuk mengungkapkan rasa syukur mereka, aku bukanlah orang macam itu. Kukira, kata “terima kasih” telah melambangkan semuanya.

Terima kasih. Ya, itu saja. Kau tak perlu tahu untuk apa aku berterima kasih. Juga, tak perlu tahu kepada siapa aku berterima kasih. Meski dibalik kata itu, tersirat banyak makna yang ingin kusampaikan lebih lagi, kata “terima kasih” telah melukiskan segalanya.

Waktu, dukungan, dan upaya. Kata-kata itu adalah kata yang selanjutnya kugunakan, untuk menyampaikan apa yang ingin kusampaikan. Tentu kau bisa menyimpulkan sendiri, bukan?

***

Juga, satu kata lagi yang ‘kan membantu diriku menyampaikan apa yang telah lama ingin kusampaikan selama ini.

Teruntuk kamu, “maaf”.

Kutegaskan lagi untuk kau yang membaca tulisanku ini, kau tak perlu tahu untuk apa “maaf” yang kusampaikan, tak perlu tahu kepada siapa “maaf”ku tertuju. Bisa jadi untuk kau, bisa juga bukan.

Terlalu banyak salahku. Terlalu banyak ku buat kau susah. Biar kuulangi lagi, “maaf”.

***

Aku bukan seorang yang pandai berkata,

Juga bukan orang yang pandai menyampaikan apa yang sebenarnya dirasa,

Namun, ku hanya ingin kau tahu,

Aku sangat menyayangimu,

Aku senang dapat mengenalmu,

Dan bila nanti hari kepergianku tiba,

Ku kan terus mengenangmu, tentu beserta segala pertolonganmu,

Yang membuat aku masih sanggup berdiri hingga detik ini

“Terima kasih”

***

Untuk keberkian kalinya, kuucapkan kataku dengan tulus, “Terima kasih”, “Maaf”.

 

Here’s to you, who are my guardian angel:)

How I Truly Feel #3 : “Recovery”

How I Truly Feel #3 : “Recovery”

Bila kau bertanya padaku, “Apakah kau ingin mati?”, sebenarnya jawabanku ialah “Tidak”. Sejujurnya aku hanya ingin diselamatkan. Aku ingin hidup berdampingan dengan normal bersama orang lain. Aku ingin merubah diriku.

Tahap “renovasi diri” memang bukanlah hal yang mudah, berbagai hambatan telah aku lalui dan membuatku berkali-kali jatuh, seperti layaknya sekarang. Aku terus berpikir dan berpikir, “Apakah aku mampu dan sanggup untuk merubah diriku?”. Tekadku terkadang goyah. Namun, bagaimana pun itu, aku harus tetap berjuang, untuk memperbaiki diriku.

Terkadang aku merasa tak ada seseorang pun yang mengerti diriku, mengerti apa yang aku mau, dan yang aku harapkan –meski diriku pun tak begitu paham akan hal itu. Aku kerap sering merasa benar-benar sendiri, terperangkap dalam ruang gelap nan mengerikan ini.

Aku ingin berteriak. Berteriak meminta bantuan. Namun yang hanya bisa kulakukan adalah duduk di dalam kesunyian ini. Menanti pertolongan, meski semua orang mengabaikanku dan pergi melaluiku.

Aku tak paham bagaimana rancangan Tuhan atas masa depanku. Aku sudah pasrah. Pasrah akan hidupku. Bila Tuhan memiliki maksud dan tujuan atas hidupku, aku akan mencoba untuk melaksanakan yang terbaik. Namun, bila nyatanya tidak, aku telah menyerahkan segala keputusan kepada-Nya. Aku yakin apapun yang menjadi keputusanNya adalah yang terbaik bagiku.

Dan yang bisa kulakukan kini ialah berdoa kepadaNya, ‘tuk menyiapkan masa depan yang terbaik bagiku dan tentunya, untuk proses “renovasi diriku” ini agar berjalan dengan lancar.original-27088-1433162302-4

How I Live My Life #1 : “Being Alone”

How I Live My Life #1 : “Being Alone”

tumblr_ndvtv6vM8R1rcf4rko1_500

Senja itu aku sedang berdiri termenung di balkon kamarku. Menatap apa yang ada di hadapanku dengan tatapan nelangsa, menyaksikan setiap tetes demi tetes air hujan yang turun dari langit. Membiakan tetesan tangisan awan itu membasahi telapak tangan kananku. Kala itu, langit terlihat suram, kurang lebih sama seperti suasana hatiku.

Earphone yang terpasang di kedua indra pendengaranku semakin membuat aku tenggelam dalam duniaku sendiri. Sesekali aku ikut menyanyikan lagu yang sedang diputar, sebuah lagu dari “Anna Clendening” yang berjudul “To My Parents”

I’m sorry mom and dad
I know I’ve messed up bad
I should’ve, should’ve done, should’ve done better
I’m sorry mom and dad
For all the time I had
To get my life, to get my life together
But I didn’t

Kurang lebih seperti itulah salah satu bait yang kunyanyikan. Selepas itu, aku bergegas mengambil buku diary milikku serta sebuah pena bertinta hitam. Beberapa menit kemudian, jemariku sudah asyik menari di sebuah buku bersampul hitam polos itu.

Dear Diary,

Entah kenapa, aku selalu merasa sendiri, kapan pun dan dimana pun. Bahkan di keramaian, aku selalu merasa sepi. Sebenarnya, aku lelah dengan kesendirian ini. Aku ingin hidup seperti layaknya orang lain seusiaku, bergaul bersama, bermain bersama, dan tertawa bersama. Memang wajar bila kau kira aku bodoh, dengan membenci kesendirian ini namun aku sendirilah yang memilih untuk sendiri. Sejujurnya, rasa takutku terlalu besar. Setiap aku mencoba untuk keluar dari rasa takutku ini, pikiranku seolah mengatakan bahwa kehadiranku hanya memperburuk keadaan. Aku takut menjalin hubungan dekat dengan orang lain karena kukira, aku hanya bisa menyakiti mereka. Di sisi lain, aku benar-benar takut akan kesendirian ini. Kesendirian yang selalu menghantuiku kemana aku pergi.

Hari berganti hari, orang-orang disekitarku bergantian pergi meninggalkanku, yang membuat rasa kesendirianku ini semakin kuat. Tak hanya itu, semua yang dulu kumiliki telah hilang. Semua itu karena diriku. Aku tak berhak menyalahkan orang lain yang pergi meninggalkanku, mereka semua tak bersalah. Akulah yang menyebabkan kepergian mereka. Aku memang tak seperti orang lain, yang pintar berinteraksi dan membuat hubungan berjalin dengan asyik. Maka, jika “mereka” memutuskan untuk pergi, pergilah. Aku tak bisa memaksa kalian untuk berada terus disampingku. Bila hadirnya aku dalam hidup kalian hanya menyakiti dan menyusahkan kalian, tolong pergilah. Aku hanya tak ingin kalian terluka hanya karenaku, aku yang tak berguna.

Entah sampai kapan aku harus berdiri di atas rasa sakitku. Hari-hari yang kini kujalani semakin buruk. Lantas, ku bertanya, dimana akhir kebahagiaanku? Apakah aku memang tak pantas menerimanya? Ataukah aku yang belum dapat memaknainya? Aku hanya lelah, lelah untuk bersabar dan bangkit untuk ke sekian kalinya. Lelah untuk berharap dan menerima kenyataan pahit ini. 

Hidupku berubah. Senyum dari bibirku ini sudah jarang terulas. Tawa lepasku sudah jarang terdengar. Aku rindu semuanya. Andai ku dapat memutar waktu, ketika semua terasa sempurna dan baik-baik saja. Dulu, tak pernah kucemaskan masa depanku. Tak pernah terpikirkan bahwa masa depanku akan seperti ini. Semua terjadi tanpa bayangan. Sulit rasanya untuk menerima keadaan, namun kuyakin, perlahan tapi pasti; aku bisa menerima kenyataan ini dan kuharap kelak, aku akan mengubahnya.

Kuletakkan buku dan penaku di meja sembari menghembuskan napas kasar. Senja itu berakhir dengan senyuman penuh arti yang terulas dari bibirku. Meski perasaan terdalamku mengatakan aku sedang bersedih, bukan berarti aku harus selalu menangis, bukan?