thoughts : am I real?, all in vain!

thoughts : am I real?, all in vain!

Apakah diriku nyata?

Jika iya, mengapa semua orang tak menganggapku ada?

Jika iya, mengapa semua orang mengabaikanku?

Jika iya, mengapa aku tak bisa merasakan bahwa aku ini benar-benar nyata?

***

Sia-sia!

Semua kata yang terlontar dari mulutku,

Semua kebaikan yang telah kuberi,

Semua waktu yang telah ku korbankan,

Semuanya sia-sia!

 

 

Advertisements
loneliness and emptiness

loneliness and emptiness

Aku hanya bisa berharap bahwa semua ini cepat berlalu. Rasa kesepianku, yang selalu menghantui diriku, yang semakin hari semakin besar dan mengambil alih diriku sepenuhnya.

Semua berawal dari rasa kesepianku. Hingga aku memilih untuk menghancurkan diriku.

Mindset ku berkata demikian,

“Tak ada seorang pun yang memedulikanmu, maka untuk apa kau pedulikan dirimu sendiri?”

“Kamu telah menghancurkan segalanya, sebagai hukumannya, kamu harus terluka,”

***

Di sisi lain, pikiran kosong juga selalu menghantui diriku.

Sometimes I get so far into my head that I forget anything else exists. Yep, overthinking leads to negative thoughts.

Aku tak tahu lagi bagaimana cara untuk tidak membiarkan pikiranku kosong. Karna setiap pikiranku kosong, aku selalu memikirkan banyak hal, yang pastinya berujung dengan rencana gila.

Aku telah berusaha untuk menyibukkan diri dalam melakukan berbagai aktifitas, namun selalu saja ada kesempatan pikiran-pikiran itu masuk ke dalam otakku. Seakan “mereka” saling berebut tempat untuk memenuhi pikiranku.

***

Hmm, rasa kesepian dan pikiran kosong memang sudah bersahabat karib dalam diriku sejak dulu. Mereka berdua takkan pernah bisa terpisahkan dan selalu dapat membuatku perlahan menyerah, menyerah untuk menghadapi hari esok.

I just want u to understand me..

I just want u to understand me..

Tak ada seorang pun yang mengerti diriku.

Mereka selalu menganggap enteng semua situasi yang aku hadapi.

Sebagian dari mereka bilang, bahwa aku tidak dapat mentolerir kondisi/situasi ini.

Sebagian dari mereka juga menganggap aku merupakan orang yang haus akan perhatian.

Mungkin mereka semua benar.

Tapi, coba tutup mulutmu sejenak dan pasang telingamu, dengarkanlah apa yang ingin kusampaikan dan apa yang kurasa sebenarnya.

Aku hanya ingin dimengerti, meski aku yakin tak ada yang ingin mencoba untuk mengerti diriku. Tak apa. Aku tak berhak memintamu untuk mengerti diriku, karena sejujurnya aku pun tak mengerti apa yang kumau. Hmm, ralat, yang kumau hanyalah untuk dimengerti…

topeng & benteng..

topeng & benteng..

Aku berbeda.

Aku berbeda denganmu. Iya, kamu, kamu yang sedang membaca tulisanku ini.

Mungkin, kau bertanya-tanya, mengapa aku menjauh darimu. Baiklah, silahkan baca tulisan ini jika kau mau tahu alasannya.

Tapi, kurasa, kamu sudah bisa menyimpulkannya, dari kalimat pertama tulisan ini.

Aku berbeda.

Aku tahu, kau mungkin bertanya-tanya, mengapa aku menganggap diriku berbeda denganmu.

Aku pun tahu, bahwa kita sama-sama manusia, sama-sama makan nasi. Tapi apa perlu kutegaskan sekali lagi? Bahwa kita berbeda.

Aku jelek. Aku tak pandai bergaul. Aku tak bisa membuat orang lain bangga terhadapku. Aku tak berbakat. Aku tak bisa menjalani hidupku dengan baik. Aku bersifat merugikan orang lain. Aku selalu menghancuri segalanya. Aku hidup di dunia ini tanpa kontribusi lain, selain menghabiskan tempat dan menyusahkan orang lain.

Sudahkah kau paham, bahwa aku berbeda?

Maka dari itu, aku memilih untuk menjauh darimu. Aku hanya tak ingin kau melihat diriku sebagaimana diriku melihat diriku yang sebenarnya. (Stttt… kau tahu? Selama ini aku membohongi semua orang, termasuk kamu)

Aku memang membohongimu. Maaf untuk itu. Iya, maaf. Maaf karna telah membohongi dirimu dengan sikapku, karena selama ini aku telah memasang topeng perlindungan diriku di depan kalian semua. Sejujurnya, aku hanya berpura-pura untuk terlihat dan dianggap baik olehmu, makanya aku buat topeng itu sedemi kian rupa baiknya, agar kau tak melihat siapa diriku sebenarnya.

Jangan kepingin lihat diriku yang sebenarnya, karna pasti kau kecewa. Aku tak ingin kamu kecewa terhadapku, makanya aku menutup-nutupi keburukanku dengan topeng yang kubilang tadi.

Kau tahu? Bahwa dibalik topeng yang kubuat, sebenarnya aku terluka. Aku berusaha membuat topeng itu sebaik mungkin, namun tanpa aku sadari bahwa sebaik-baiknya topeng yang kubuat, kau pasti melihat betapa buruknya aku. Iya, aku memang sudah gagal. Maka dari itu, kali ini aku membeberkannya, karena aku sudah lelah untuk membohongi dirimu.

Tapi tenang, sekarang topeng perlindunganku telah berubah menjadi benteng perlindungan. Aku membangun benteng perlindungan bagi diriku sekokoh mungkin, agar kau tak bisa meraihku. Ya, dengan tujuan menjauh darimu, aku pun membangun benteng itu. Sebenarnya, alasanku membangun benteng itu karna aku sudah lelah dikecewakan olehmu, juga lelah mengecewakanmu.

Jadi, aku harap, dengan terbangunnya benteng ini, akan menguntungkan segala pihak. Kamu yang tak perlu lagi dibuat pusing olehku, dan aku yang tak perlu merasakan luka karena dikecewakanmu.

Sudah mulai paham?

Ku harap kau senang dengan terbangunnya benteng ini:)

am I a failure..?

am I a failure..?

Tak ada yang bersifat selamanya.

Pada akhirnya, semua orang pun pergi.

Dan tinggallah aku seorang diri.

Tak apa, aku sudah terbiasa dengan ini:)

Aku tahu, pada dasarnya aku memang sebuah kesalahan.

Aku pun sadar diri, bahwa aku hanya pembuat masalah, yang membuat runyam segalanya, hmm, tak perlu berbohong di depanku, aku yakin di lubuk hatimu kau pasti mengiyakan hal ini.

Aku lelah, atas semua drama yang tercipta. Entah, mungkin memang benar apa katamu, bahwa aku tak dapat menerima masalah/ situasi sulit ini, atau mungkin aku hanya melebih-lebihkan segalanya. Tapi cobalah posisikan dirimu di posisiku, aku hanya bingung, bingung harus melakukan apa. Pada dasarnya aku hanya ingin dimengerti, meski aku tahu sampai kapanpun takkan ada yang mengerti perasaanku.

Rasanya seperti semua yang kulakukan salah di mata semua orang. Padahal, aku sudah berusaha sebisa mungkin membuat kalian senang, juga meninggalkan kesan positif terhadapku. Namun, aku sadar, bahwa sekeras-kerasnya aku mencoba, hasilnya akan nihil, karena memang aku merupakan sebuah kesalahan.

“Lelah”

“Lelah”

“Lelah”

Kata itu terlontar dari mulutku untuk yang ke sekian kalinya.

Jika kau bertanya-tanya tentang perasaanku, bacalah ulang kata pertama dalam tulisanku ini.

Kata itu cukup dapat mewakili perasaanku.

***

Aku lelah akan kehidupan. Kehidupan yang seharusnya kusyukuri atas pemberianNya.

Aku lelah akan dunia. Dunia dimana aku dilahirkan.

Aku lelah akan takdir. Takdir yang membuatku merasakan penderitaan.

Aku lelah akan diriku sendiri. Diriku yang merupakan kesalahan.

***

Permintaanku hanya satu; aku ingin mengakhiri hidupku. Saat ini juga.

Mengapa aku harus hidup dengan keterpaksaan?

Lebih baik aku memberikan sisa hidupku kepada orang lain yang lebih pantas untuk menerimanya.

Aku selalu bertanya kepadaNya, mengapa aku masih diberikan kesempatan untuk hidup? Toh, aku hanya merupakan penghancur segalanya, yang merugikan segala pihak.

Aku sadar diri, bahwa aku memang tidak selalu lebih baik dari orang lain. Aku memang selalu menyusahkan orang lain, maka dari itu, bagaimana aku bisa berguna bagi orang lain?

Pamit

Pamit

***

Aku tahu semua orang kecewa terhadapku sekarang. Tentunya karena aksi yang semalam kulakukan. Iya, aksi yang kalian bilang “bodoh”.

Aku melakukannya bukan tanpa alasan. Bahkan, terlalu banyak alasanku untuk menjadikannya nyata.

Aku sama sekali tidak merasa bersalah telah melakukannya. Biar saja kalian makin membenciku, kali ini aku sudah benar-benar tak peduli. Malah, jika kalian semua benci aku, aku senang, karena aku berhasil membuat diriku terasingkan.

Aku berencana menyiksa diriku sendiri. Kalian bisa bilang bahwa aku telah melakukannya, namun aku belum cukup puas untuk melihat diriku terluka.

Tak usah ingin tahu apa rencanaku selanjutnya untuk membuat diriku “tersiksa”.

Sadar tidak sadar, sekarang, dengan menjauh dari kalian semua, itu merupakan bagian dari rencanaku untuk menyiksa diriku. Iya, dengan begitu, aku semakin merasa kesepian. Kau yang mengenalku sangat dekat pasti tahu, bahwa kesepian merupakan hal yang sangat amat ku benci.

Tak perlu melarang-larang untuk melakukan aksi gilaku, aku sudah tahu sendiri kok resikonya. Tapi, itu sama sekali tak menggoyahkan keinginanku; AKU TETAP AKAN MELAKUKANNYA. Entah kapan, tapi pasti kulakukan.

Kini, pikiranku dipenuhi oleh kejahatan. Tenang, aku tidak berniat “menjahati” kalian kok, seperti yang kubilang tadi, aku akan menyiksa diriku sendiri. Meski sekarang, beragam aksi gila yang akan kulakukan masih berbentuk rencana, perlahan tapi pasti aku yakin satu per satu aksi itu akan menjadi nyata.

Setelah mengetahui hal ini, kalian takkan mengetahui hal apapun lagi. Ya, aku hanya memberi tahu hal ini saja kepada kalian. Selepas itu, takkan ada lagi hal yang akan kusampaikan.

Apakah aku berhasil membuat kalian semua kecewa terhadapku? Kalau iya, bagus deh. Niat awalku kan ingin membalas dendam terhadap kalian. Kalian semua yang telah membuat aku kecewa. Jadi, kalian tak seharusnya marah denganku, karena sekarang kedudukan kita, satu sama. Kalian yang telah membuatku kecewa, dan sekarang, aku yang (mungkin) membuat kalian kecewa.

Aku tahu, jika kalian membaca tulisanku ini, kalian bisa merasakan sisi gelapku. Aku benar-benar bukan seperti yang kalian kenal selama ini, bukan? Ya, inilah diriku yang sebenarnya.

Agar rencana penyiksaan terhadap diriku berjalan lancar, jauhilah aku, bencilah aku, hmm, kalau perlu, sebarkan pada dunia bahwa aku memang pantas untuk dibenci. Kalau saat ini kalian ingin menolongku dan membuatku senang, lakukanlah itu demi aku!

.

Dan inilah bentuk pamitku kepada kalian semua.